GANGGUAN PSIKOLOGIS (NORMAL VERSUS ABNORMAL)
GANGGUAN PSIKOLOGIS
(NORMAL VERSUS ABNORMAL)
A.
Mendeskripsikan
Abnormalitas
Sulitnya
membedakan perilaku normal dari perilaku abnormal, psikolog telah berjuang untuk
menemukan definisi yang tepat mengenai “perilaku abnormal”. Misalnya,
mempertimbangkan definisi berikut ini, masing-masing memiliki kelebihan dan
kekurangan:
·
Abnormalitas sebagai pergeseran dari
rata-rata.
Penggunaan
pendekatan statistik memudahkan kita untuk mengobservasi apa saja perilaku yang
langka atau jarang terjadi dalam lingkungan masyarakat tertentu atau budaya dan
memberi label penyimpangan tersebut dari norma “abnormal”. Kesulitan pada
definisi ini adalah beberapa perilaku yang secara statistik jarang terjadi
jelas tidak termasuk dalam klasifikasi abnormal. Contoh, jika kebanyakan orang
lebih suka keripik jagung untuk sarapannya dan Anda lebih suka dedak kismis,
penyimpangan ini jelas membuat perilaku Anda abnormal.
·
Abnormalitas sebagai pergeseran dari
ideal.
Pendekatan
alternatif mempertimbangkan abnormalitas terkait standar yang diperjuangkan
oleh kebanyakan orang (ideal). Definisi semacam ini menganggap perilaku
abnormal jika cukup menyimpang dari beberapa standar ideal atau standar budaya
yang disetujui secara universal. Standar tersebut selalu berubah setiap waktu
dan bervariasi pada seluruh kebudayaan. Contoh, kita akan sulit sekali untuk
menemukan kesepakatan perjanjian baru, Al-Quran, Talmud, atau The Book of Mormon yang memberikan
standar paling masuk akal.
·
Abnormalitas sebagai rasa
ketidaknyamanan personal.
Definisi
yang lebih berfokus pada konsekuensi psikologis dari perilaku bagi individu.
Perilaku dianggap abnormal jika menghasilkan perasaan tertekan, gelisah, atau
merasa bersalah kepada seorang individu atau jika merugikan seseorang dalam
beberapa hal. Definisi ini memiliki kekurangan dalam beberapa bentuk terutama
pada gangguan mental, tetapi orang menggambarkan perasaannya yang indah
meskipun perilaku mereka tampak aneh bagi orang lain. Contoh, sebagian besar
dari kita akan berpikir bahwa wanita yang mengatakan bahwa dirinya mendengar
pesan dari Mars akan menampilkan perilaku abnormal meskipun ia mungkin berkata
bahwa pesan tersebut membuatnya bahagia.
·
Abnormalitas sebagai ketidakmampuan untuk
berfungsi secara efektif.
Kebanyakan
orang dapat memberi makan dirinya sendiri, memiliki pekerjaan, bergaul dengan
orang lain, dan hidup sebagai salah satu anggota masyarakat yang aktif, namun
ada orang-orang yang tidak dapat menyesuaikan dirinya dengan tuntutan
masyarakat secara efektif. Berdasarkan pada pandangan ini terhadap abnormalitas,
orang yang tidak dapat berfungsi secara efektif dan beradaptasi dengan
permintaan masyarakat akan dianggap abnormal. Contohnya adalah pengangguran dan
wanita yang tidak memiliki rumah dan tinggal di jalanan.
·
Abnormalitas sebagai sebuah konsep hukum.
Menurut
pendapat juri yang pertama kali mendengar kasusnya, Andrea Yates, seorang
wanita yang menenggelamkan kelima anaknya di bak mandi adalah waras. Ia
dijatuhi hukuman penjara seumur hidup atas tindakannya. Bagi sistem peradilan,
perbedaan antara perilaku normal dengan abnormal bertumpu pada definisi
kegilaan dalam istilah legal, tetapi bukan istilah psikologis. Definisi
kegilaan bervariasi dari yurisdiksi satu ke yurisdiksi lainnya. Beberapa negara
bagian, kegilaan berarti terdakwa tidak dapat memahami perbedaan antara benar
dengan salah pada saat mereka malakukan tindak pidana. Negara bagian lain
menganggap apakah terdakwa tidak mampu memahami kriminalitas yang ia lakukan
secara substansial atau tidak dapat mengontrol dirinya sendiri. Beberapa
yurisdiksi, pembelaan untuk kegilaan tidak diperbolehkan sama sekali (Weiner
& Wettstein, 1993; Frost & Bonnie, 2001; Sokolove, 2003 dalam Feldman,
2012).
B.
Sudut
Pandang terhadap Abnormalitas (Mulai Takhayul hingga Ilmu Pengetahuan)
Sepanjang
sejarah kehidupan manusia, orang-orang menghubungkan perilaku abnormal dengan
takhayul dan ilmu sihir. Pihak yang berkuasa merasa benar karena
“memperlakukan” perilaku abnormal dengan berusaha mengusir sumber permasalahan,
seperti mencambuk, dicelup dalam air panas, dibiarkan kelaparan, atau bentuk
penyiksaan lainnya yang penyembuhannya sering kali lebih buruk daripada
penderitaan yang dialaminya (Berrios, 1996
dalam Feldman, 2012).
Pendekatan
kontemporer mengambil pandangan yang lebih bijaksana. Saat ini, terdapat enam
sudut pandang utama digunakan untuk memahami gangguan psikologis. Sudut pandang
tersebut tidak saja menyatakan ada berbagai penyebab perilaku abnormal, tetapi
juga berbagai macam pendekatan treatmen.
Sudut Pandang terhadap Gangguan
Psikologis
|
Sudut Pandang
|
Deskripsi
|
Aplikasi yang Memungkinkan pada Sudut Pandang Kasus
Lily
|
|
Medis
|
Berasumsi bahwa penyebab
fisiologis merupakan akar dari gangguan psikologis.
|
Memeriksakan Lily untuk
permasalahan medis, seperti tumor otak, ketidakseimbangan kimiawi di dalam otak, atau penyakit.
|
|
Psikoanalisis
|
Berpendapat bahwa gangguan
psikologis merupakan akar dari konflik pada masa kanak-kanak.
|
Mencari informasi mengenai
masa lalu lily, pertimbangkan kemungkinan konflik masa kanak-kanak yang
pernah terjadi.
|
|
Behavioral
|
Berasumsi bahwa perilaku
abnormal merupakan respons yang dipelajari.
|
Berkonsentrasi pada imbalan
dan hukuman terhadap perilaku Lily, dan kenali stimulus lingkungan yang
memperkuat perilakunya.
|
|
Kognitif
|
Berasumsi bahwa kognisi
(pikiran dan keyakinan seseorang) merupakan pusat dari gangguan psikologis.
|
Pusatkan perhatian pada
persepsi Lily mengenai diri dari lingkungannya.
|
|
Humanistik
|
Menekankan pada tanggung
jawab seseorang terhadap perilakunya dan kebutuhan untuk beraktualisasi diri.
|
Pertimbangkan perilaku Lily
dalam kaitannya dengan pilihan dan usahanya dalam mencapai potensinya.
|
|
Sosiokultural
|
Berasumsi bahwa perilaku
dibentuk oleh keluarga, masyarakat, dan budaya.
|
Pusatkan perhatian pada
tuntutan sosial yang berkontribusi pada gangguan yang dialami Lily.
|
C.
Mengelompokkan
Perilaku Abnormal
Diagnostic and Statistical Manual
of Mental Disorder, Fourth Edition, Text Revision (DSM-IV-TR) adalah sistem
yang diciptakan oleh American Psychiatric Association serta digunakan oleh
sebagian ahli untuk mendiagnosis dan mengklasifikasi perilaku abnormal. DSM-IV-TR mencakup lima tipe informasi
yang dikenal dengan nama axis yang harus dipertimbangkan dalam memeriksa
seorang pasien.
·
Axis I: Gangguan Klinis. Gangguan yang
menciptakan stress dan fungsi yang terganggu.
·
Axis II: Gangguan Kepribadian dan
Retardasi Mental. Pola perilaku menetap dan kaku.
·
Axis III: Kondisi Medis Umum. Gangguan
fisik yang mungkin berhubungan dengan gangguan psikologis.
·
Axis IV: Permasalahan Lingkungan dan
Psikososial. Permasalahan yang terjadi dalam kehidupan seseorang seperti
stresor atau peristiwa hidup yang mungkin memengaruhi diagnosis. Treatmen, dan
gangguan psikologis yang ditampilkan.
·
Axis V: Penilaian Fungsi secara Global.
Keseluruhan level pada fungsi mental, sosial, pekerjaan, dan waktu santai.
Kategori
Diagnostik Utama DSM-IV-TR
|
Kategori
Gangguan
|
Contoh
|
|
Kecemasan (permasalahan ketika kecemasan
mengganggu fungsi sehari-hari).
|
Gangguan kecemasan umum, gangguan panik, gangguan
fobia, gangguan obsesif-kompulsi, gangguan stres pascatrauma.
|
|
Somatoform (permasalahan psikologis yang
ditampilkan melalui gangguan pada tubuh).
|
Hipokondria, gangguan konversi.
|
|
Disosiatif (terbagi dalam pecahan, yaitu bagian
penting dari kepribadian yang biasanya terintegrasi).
|
Gangguan identitas disosiatif (kepribadian ganda),
amnesia disosiatif, fugue disosiatif.
|
|
Mood (emosi depresi atau euforia yang sangat kuat
sehingga mengganggu kehidupan sehari-hari).
|
Depresi mayor, gangguan bipolar.
|
|
Skizofrenia dan gangguan psikotik (penurunan dalam
fungsi otak dan gangguan bahasa, gangguan persepsi, gangguan emosional, dan
menarik diri dari orang lain).
|
Disorganisasi, paranoid, katatonik, tidak
terdiferensiasi, residu.
|
|
Kepribadian (permasalahan yang menciptakan stres
personal kecil, tetapi hal tersebut mengarah pada ketidakmampuan untuk berfungsi
seperti anggota kelompok sosial yang normal lainnya).
|
Gangguan kepribadian antisosial (sosiopatik),
gangguan kepribadian narsistik.
|
|
Seksual (permasalahan yang berhubungan dengan
rangsangan seksual dari objek yang tidak lazim atau permasalahan yang berhubungan
dengan fungsi tubuh).
|
Paraphilia, disfungsi seksual.
|
|
Terkait penggunaan narkoba (permasalahan yang
berhubungan dengan ketergantungan atau penyalahgunaan narkoba).
|
Alkohol, kokain, halusinogen, ganja.
|
|
Demensia, amnesia, dan gangguan kognitif lainnya.
|
|
Kelebihan
dan Kelemahan DSM-IV-TR
DSM-IV-TR
memiliki kelebihan dalam menyajikan sistem deskriptif yang tidak menentukan
penyebab atau alasan sebuah masalah, tetapi menggambarkan perilaku yang sedang
ditampilkan. Pendekatan ini memudahkan komunikasi antara ahli kesehatan mental
dari berbagai latar belakang dengan pendekatan teoretis. DSM-IV-TR menyajikan semacam konseptual singkat yang memudahkan
para ahli menggambarkan perilaku yang cenderung muncul bersamaan dalam diri
individual.
DSM-IV-TR tidak
sepenuhnya berhasil messkipun dikembangkan untuk memberikan diagnosis gangguan
psikologis yang lebih akurat dan konsisten. Beberapa kritikus menuduh bahwa
sistem tersebut terlalu banyak mengandalkan sudut pandang medis. Sistem
tersebut juga tidak sepenuhnya memperhitungkan kelebihan dalam behavioral neuroscience yang telah
mengidentifikasi genetik sebagai fondasi dari beberapa gangguan psikologis.
D.
Gangguan
Psikologis Utama
a)
Gangguan
Kecemasan
Kecemasan merupakan reaksi normal terhadap stres
yang sering kali membantu dan tidak menghambat fungsi sehari-hari kita. Tanpa
kecemasan, misalnya, kebanyakan dari kita tidak akan memiliki motivasi untuk
belajar giat, melakukan latihan fisik untuk ujian, atau menghabiskan banyak
waktu untuk bekerja. Beberapa orang mengalami kecemasan dalam situasi yang
tidak terdapat alasan eksternal atau penyebab munculnya stres. Ketika kecemasan
terjadi tanpa justifikasi eksternal dan mulai mempengaruhi fungsi sehari-hari
kehidupan manusia, ahli kesehatan mental memandang sebagai masalah psikologis
yang disebut sebagai gangguan kecemasan. Terdapat empat tipe gangguan kecemasan
(Feldman, 2012), yaitu:
1. Gangguan
Fobia
Fobia merupakan
ketakutan yang intens dan tidak rasional terhadap objek atau situasi tertentu.
Bahaya yang ditampilkan oleh stimulus yang menimbulkan kecemasan biasanya tidak
ada atau sangat kecil. Bagi mereka yang mengalami fobia bahaya tersebut dirasa
besar dan serangan rasa panik yang luar biasa dapat mengikuti munculnya
stimulus tertentu (Feldman, 2012).
Tipe
Fobia dan Pemicunya
|
Gangguan Fobia
|
Deskripsi
|
Contoh
|
|
Agorafobia
|
Rasa takut terhadap tempat-tempat, seperti tempat
yang tidak dikenal atau yang terlalu ramai dimana bantuan mungkin tidak
tersedia jika terjadi kondisi darurat
|
Seseorang menjadi tahanan rumah karena tempat lain
selain rumahnya akan memunculkan gejala kecemasan ekstrem
|
|
Fobia Tertentu
|
Rasa takut terhadap benda, tempat atau situasi
tertentu.
|
|
|
Binatang
|
Binatang tertentu atau serangga
|
Seseorang mengalami rasa takut yang luar biasa
terhadap anjing, kucing dan laba-laba.
|
|
Tipe lingkungan alam
|
Kejadian atau situasi di lingkungan alam
|
Seseorang memiliki rasa takut yang ekstrem
terhadap badai, ketinggian dan air
|
|
Tipe situasional
|
Transportasi umum, terowongan, jembatan, lift,
terbang, menyetir
|
Seseorang menjadi sangat takut ketika berada
didalam lift
|
|
Tipe suntikan darah-lika
|
Darah, luka, cedera, suntikan
|
Seseorang merasa panic ketika melihat kaki seorang
anak yang sedang terluka
|
|
Fobia Sosial
|
Merasa takut dinilai atau dipermalukan orang lain
|
Seseorang menghindari semua situasi sosial dan
menjadi seorang pertapa karena takut akan menerima penilaian dari orang lain.
|
2. Gangguan
Panik
Gangguan
panik adalah gangguan kecemasan yang mengambil bentuk serangan panik dapat
berlangsung dari beberapa detik hingga beberapa jam. Berbeda dengan fobia yang
distimulasi oleh benda atau situasi tertentu, gangguan panik tidak memiliki
stimulus yang dapat diidentifikasi. Kecemasan dapat dengan tiba-tiba meningkat
hingga puncak, dan seorang individu merasakan sensasi akan adanya malapetaka
yang terjadi. Gejala fisiknya dari satu orang ke orang lain berbeda, tetapi
mereka dapat meliputi debaran jantung, napas pendek, berkeringat berlebih, rasa
lemas dan pusing, sensasi pada lambung, serta kadang perasaan akan mati (Rachman
& deSilva, 2004; Laederach-Hofmann & Meserli-Buergy, 2007 dalam
Feldman, 2012).
3. Gangguan
Kecemasan Umum
Seseorang
yang mengalami gangguan kecemasan umum mengalami kecemasan yang menetap dalam
jangka panjang dan kekhawatiran yang tidak dapat dikontrol. Perhatian mereka adalah
pada masalah-maalah tertentu yang meliputi keluarga, uang, pekerjaan, atau
kesehatan. Kecemasan bersifat menetap, seseorang dengan gangguan kecemasan umum
tidak dapat berkonsentrasi atau menyingkirkan kekhawatiran dan rasa takut
mereka. Kecemasan umum disertai juga dengan simtom-simtom fisiologis, seperti
otot menegang, pusing, insomnia (Starcevic dkk, 2007 dalam Feldman, 2012).
4. Gangguan
Obsesif Kompulsif (OCD)
Gangguan
Obsesif Kompulsif (OCD), yaitu seseorang terjebak dalam pikiran yang tidak
diinginkan (disebut obsesi) atau perasaan bahwa mereka harus memunculkan
perilaku (disebut kompulsi) yang membuat mereka terdorong untuk memunculkan
perilaku tersebut. Obsesi adalah ide atau pikiran yang tidak diinginkan,
bersifat menetap, dan selalu muncul. Misalnya, seorang pelajar mungkin tidak
dapat berhenti memikirkan bahwa ia telah lupa menuliskan namanya dalam sebuah
tes, dan dapat memikirkan hal tersebut terus menerus selama dua minggu yang
diperlukan untuk mendapatkan lembar tesnya kembali (Lee & Kwon, 2003; Lee,
dkk., 2005; Rassin & Murris, 2007 dalam Feldman, 2012). Kompulsi merupakan
dorongan tidak tertahankan untuk berulang kali melakukan beberapa tindakan yang
terlihat aneh dan tidak masuk akal, bahkan bagi si pelaku sendiri. Tindakan
yang dilakukan mungkin relatif sepele, seperti memeriksa kompor berulang kali
untuk meyakinkan semua sudah dimatikan (Frost &Steketee, 2002; Clark, 2007;
Moretz & Mckay, 2009 dalam Feldman, 2012).
Contoh
autobiografi seseorang yang mengalami obsesif kompulsif: “Jika saya tidak
memegang ukiran ditembok dengan cara yang benar setiap kali saya masuk atau
keluar dari kamar; jika saya tidak menggantungkan baju saya dilmari dengan
benar; jika saya tidak membaca suatu paragraf dengan cara tertentu; jika tangan
dan kuku saya tidak bersih sempurna, saya berpikir perilaku saya yang tidak
benar akan membunuh kedua orangtua saya” (Summers, 2000 dalam Feldman 2012).
Penyebab Gangguan
Kecemasan
Ragam dari gangguan kecemasan berarti bahwa tidak
ada penjelasan tunggal yang sesuai untuk sema kasus. Faktor genetik jelas
merupakan bagian dari hal ini. Misalnya, jika seorang anggota dari sepasang
kembar identic memiliki gangguan panic, terdapat 30% kemungkinan bahwa pasangan
kembarnya juga akan mengalami gangguan tersebut (Holmes, dkk., 2003; Beidel
& Turner, 2007; Chamberlain, dkk., 2008 dalam Feldman, 2012).
Beberapa peneliti percaya bahwa sistem saraf otonom
yang terlalu aktif mungkin akar dari serangan panik. Mereka menyebutkan bahwa
regulasi lokus ceruleus otak yang
buruk dapat mendorong munculnya serangan panik yang menyebabkan sistem limbik
menjadi terlalu terstimulus. Terdapat juga penyebab biologis dari terjadinya
gangguan obsesif kompulsif. Peneliti telah menemukan perbedaan pada otak mereka
yang mengalami gangguan ini dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki
gangguan. Psikolog yang menerapkan sudut pandang bahavioral telah mengambil
pendekatan yang berbeda yang menekankan pada faktor lingkungan. Mereka
memandang kecemasan sebagai respons yang dipelajari terhadap stres.
Sudut pandang kognitif menyebutkan bahwa gangguan
kecemasan tumbuh dari pikiran dan kepercayaan yang tidak sesuai serta tidak
akurat mengenai lingkungan dalam dunia sekarang. Contoh, seseorang dengan
gangguan kecemasan dapat memandang seekor anak anjing yang lucu sebagai seekor
banteng yang ganas, atau mereka dapat melihat sebuah bencana datang setiap kali
mereka sedang berada di dalam pesawat. Menurut pandangan kognitif, pikiran
maladaptif seseorang mengenai dunianya merupakan akar dari gangguan kecemasan
(Frost & Steketee, 2002; Wang & Clark, 2002; Ouimet, Gawronski, &
Dozote, 2009 dalam Feldman, 2012).
b)
Gangguan
Somatoform
Gangguan somatoform merupakan masalah psikologis
yang mengambil bentuk fisik (somatis), tetapi tidak terdapat penyebab medis
untuk masalah tersebut. Seorang individu dengan gangguan somatoform merasakan
simtom-simtom fisik, tidak terdapat penyebab biologis bagi gejala tersebut.
Jika ada sebuah masalah medis, reaksi dari orang tersebut terlalu berlebihan.
Salah satu tipe gangguan somatoform adalah hipokondriasis,
ketika seseorang memiliki ketakutan yang menetap terhadap penyakit dan terlalu
peduli pada kesehatan mereka. Individu tersebut percaya bahwa rasa sakit
sehari-hari adalah gejala dari penyakit yang mematikan. “Gejala-gejala”
tersebut tidak palsu, tetapi salah diinterpretasikan sebagai bukti dari
beberapa penyakit yang serius-sering kali dalam bentuk bukti medis yang tidak
dapat dipertanyakan lagi (Noyes, dkk, 2003; Fallon & Feinstein, 2001;
Abramowitz, Olatunji, & Deacon, 2007; Olatunji, 2008 dalam Feldman, 2012).
Gangguan somatoform yang lain merupakan gangguan
konversi. Gangguan konversi meliputi gangguan fisik aktual, seperti ketidakmampuan
untuk melihat, mendengar, atau menggerakkan lengan atau kaki. Penyebab dari
gangguan fisik seperti ini adalah murni psikologis; tidak terdapat alasan
biologis untuk masalah tersebut. Beberapa kasus klasik yang dihadapi Freud
meliputi gangguan konversi. Misalnya, salah seorang pasien Freud tiba-tiba
menjadi tidak mampu menggunakan tangannya tanpa penyebab fisiologis yang nyata.
Kemudian tiba-tiba masalah tersebut menghilang.
c)
Gangguan
Disosiatif
Gangguan disosiatif adalah disfungsi psikologis yang
dicirikan oleh pemisahan (atau disosiasi) dari bagian-bagian kepribadian
seseorang yang berbeda-beda yang dalam kondisi normal saling terintegrasi dan
bekerja sama.
Terdapat beberapa gangguan disosiatif meskipun
semuanya jarang ditemukan. Seseorang dengan gangguan identitas disosiatif atau
gangguan kepribadian ganda (DID) yang mana seseorang memperlihatkan memperlihatkan
karakteristik dari dua atau lebih kepribadian, identitas, atau bagian
kepribadian yang berbeda. Kepribadian individual sering kali memiliki sebuah
perangkat unik hal-hal yang disukai dan tidak disukai serta reaksi mereka
terhadap situasi.
Amnesia disosiatif adalah gangguan disosiatif yang
mana ketika terjadi kehilangan memori tertentu yang signifikan. Materi yang
terlupakan dalam kasus amnesia disosiatif sebenarnya masih ada dalam memori,
tetapi tidak dapat dipanggil kembali. Paling parah dari amnesia disosiatif,
seseorang individu tidak dapat mengingat nama mereka, tidak dapat mengenali
orangtua, dan anggota keluarga, serta tidak tahu alamat mereka. Terlepas dari
ketidakmampuan untuk mengingat kecakapan dan kemampuan yang telah mereka
kembangkan sebelumnya. Contohnya, meskipun seorang koki tidak dapat mengingat
tempat ia dibesarkan dan menerima pelatihan, ia mungkin masih dapat menyiapkan
berbagai masakan.
Fugue disosiatif adalah bentuk amnesia yang tidak
umum, yang mana ketika individu meninggalkan rumah dan terkadang beramsumsi
bahwa mereka memiliki identitas baru. Ancaman yang umum bagi gangguan
disosiatif adalah mereka membuat seseorang dapat melarikan diri dari beberapa
situasi yang menimbulkan kecemasan.
d)
Gangguan
Mood
Gangguan mood adalah gangguan dalam pengalaman
emosional yang cukup kuat untuk mengganggu kehidupan sehari-hari. Kita semua
mengalami perubahan mood, terkadang bahagia, mungkin euphoria pada waktu lain,
merasa kesal, sedih, atau tertekan. Pada kasus yang ekstrem, mood dapat
mengancam kehidupan.
·
Depresi
Mayor
Depresi mayor adalah
bentuk depresi yang parah dan mempengaruhi konsentasi, pengambilan keputusan
dan kemampuan bersosialisasi. Depresi mayor adalah salah satu bentuk yang lebih
umum dari gangguan mood. Wanita memiliki kemungkinan dua kali lebih besar untuk
mengalami depresi mayor dibandingkan pria. Depresi dipandang normal setelah
putus dari hubungan jangka panjang. Depresi normal terjadi setelah beberapa
kejadian yang tidak terlalu serius, seperti gagal dalam ujian atau pasangan
kita lupa dengan hari ualangtahun kita. Seseorang yang menderita depresi mayor
mengalami perasaan yang sama, tetapi dalam tingkat yang lebih besar. Merasa
tidak berguna, tidak berharga, kehilangan selera makan dan tidak memiliki
energi. Lebih jauh lagi selama berbulan-bulan, bertahun-tahun menangis tanpa
dapat dikontrol, mengalami gangguan tidur, dan berisiko melakukan bunuh diri.
·
Mania
dan Gangguan Bipolar
Mania
adalah kondisi kegembiraan yang meningkat, intens, dan luas. Mereka akan
berhasil dalam apapun yang mereka lakukan, mereka dapat terlibat dalam sesuatu
yang brutal. Mania dengan depresi ini disebut dengan gangguan bipolar, yaitu
gangguan ketika seseorang beralih antara periode mania yang euforia dan periode
depresi. Periode depresi biasanya lebih lama dari periode mania. Orang yang
mengalami gangguan ini sering memperlihatkan kecerobohan yang menghasilkan
cidera emosional yang terkadang fisik. Mereka dapat membuat orang lain kesal
karena terlalu banyak bicara, harga diri yang terlalu berlebihan, dan
ketidakpedulian terhadap kebutuhan orang lain.
Penyebab Gangguan Mood
Beberapa gangguan mood jelas memiliki akar genetik
dan biologis. Kebanyakan bukti menunjukkan bahwa gangguan bipolar terutama
disebabkan oleh faktor-faktor biologis. Depresi juga melibatkan fokus pada
penyebab psikologis. Para pengikut pendekatan psikoanalisis memandang depresi
sebagai hasil dari perasaan kehilangan atau kemarahan yang diarahkan kepada
seseorang.
Beberapa penjelasan bagi gangguan mood diatribusikan
pada faktor kognitif. Martin Seligman menyebutkan bahwa depresi merupakan
respon terhadap ketidak berdayaan yang dipelajari, yaitu harapan yang
dipelajari bahwa kejadian dalam kehidupan seseorang tidak dapat dikontrol dan
tidak ada seorang pun yang dapat lolos dari situasi tersebut. Sebagai
konsekuensinya, seseorang dengan mudah berhenti untuk melawan kejadian aversif
dan menerima kejadian tersebut dengan pasrah yang akhirnya menyebabkan depresi.
e)
Skizofrenia
Skizofrenia merujuk
pada sekelompok gangguan ketika terjadi distorsi realitas yang parah. Pikiran,
persepsi, dan emosi dapat mengalami kerusakan; individu dapat menarik diri dari
interaksi sosial; serta orang tersebut dapat menampilkan perilaku aneh.
Simtom-simtom yang dimunculkan oleh seorang penderita skizofrenia dapat bervariasi
seiring berjalannya waktu, dan seorang penderita skizofrenia memperlihatkan
perbedaan signifikan dalam pola simtom mereka meskipun ketika mereka diberikan
label kategori diagnostik yang sama. Sejumlah karakteristik yang membedakan
skizofrenia dengan gangguan lain (Feldman, 2012), di antaranya sebagai berikut:
1.
Penurunan dari
tingkat pemfungsian sebelumnya.
Seorang individu
tidak lagi dapat melakukan kegiatan yang sebelumnya dapat ia lakukan.
2.
Gangguan pikiran
dan ucapan.
Seseorang dengan
skizofrenia menggunakan logika dan bahasa secara aneh. Pikiran mereka
seringkali tidak masuk akal, dan logika mereka seringkali salah yang merujuk
pada gangguan pikiran formal. Mereka juga tidak mengikuti aturan linguistik
umum.
3.
Delusi.
Seseorang dengan
skizofrenia seringkali memiliki delusi, yaitu kepercayaan yang dipegang teguh
dan tidak dapat digoyahkan yang tidak memiliki dasar dalam realitas. Delusi
yang umum muncul pada penderita skizofrenia adalah kepercayaan bahwa mereka
dikontrol oleh orang lain, mereka dianiaya oleh orang lain, dan pikiran mereka
disiarkan sehingga orang lain tahu apa yang sedang mereka pikirkan.
4.
Halusinasi dan
gangguan persepsi.
Penderita
skizofrenia tidak mempersepsikan dunia sebagaimana kebanyakan orang. Mereka
juga mengalami halusinasi, pengalaman mempersepsi hal-hal yang tidak benar-benar
ada. Mereka dapat melihat, mendengar, atau mencium sesuatu yang berbeda dengan
orang lain.
5.
Gangguan
emosional.
Seseorang dengan
skizofrenia terkadang memperlihatkan kurangnya emosi ketika kejadian yang
paling dramatis sekalipun menghasilkan sedikit atau tidak menghasilkan respons
emosional sama sekali. Sebaliknya, mereka dapat memperlihatkan emosi yang tidak
tepat pada suatu situasi.
6.
Penarikan diri.
Penderita
skizofrenia cenderung memiliki sedikit ketertarikan terhadap orang lain. Mereka
cenderung tidak bergaul atau benar-benar terlibat dalam percakapan dengan orang
lain meskipun mereka mungkin terlihat bercakap-cakap. Pada kasus yang paling
ekstrem, mereka bahkan tidak mengakui keberadaan orang lain dan seperti berada
di dalam dunia mereka sendiri.
Tipe-tipe
skizofrenia dan Simtomnya
|
Tipe
|
Simtom
|
|
Skizofrenia
disorganisasi
|
Tertawa
dan cekikikan yang tidak tepat, ketololan, ucapan yang tidak koheren,
perilaku kekanak-kanakan, perilaku yang aneh, dan terkadang cabul.
|
|
Skizofrenia
paranoid
|
Delusi
dan halusinasi penganiayaan atau kebesaran, hilangnya penilaian, perilaku
yang membabi buta, dan tidak dapat diprediksi.
|
|
Skizofrenia
katatonik
|
Gangguan
utama dalam pergerakan, terkadang kehilangan seluruh gerakan dengan terdiam
kaku, dalam fase lain pergerakan yang hiperaktif dan liar, terkadang kasar.
|
|
Skizofrenia
tidak terdiferensiasi
|
Campuran
berbagai simtom utama skizofrenia, klasifikasi yang digunakan untuk pasien
yang tidak dapat dimasukkan dalam kategori yang lain.
|
|
Skizofrenia
residual
|
Pertanda
kecil dari skizofrenia setelah episode yang lebih serius.
|
Skizofrenia biasanya terjadinya pada awal masa
dewasa, dan simtomnya berkembang melalui dua cara, yaitu secara perlahan dan
terselubung. Terjadi penarikan diri secara bertahap dari dunia, melamun yang
berlebihan, emosi yang datar, hingga gangguan ini akhirnya mencapai titik
ketika orang lain tidak dapat ditipu. Munculnya simtom bersifat tiba-tiba dan
mencolok disebut dengan skizofrenia reaktif. Harapan treatmen untuk skizofrenia
reaktif relatif lebih baik, tetapi skizofrenia proses telah terbukti lebih
sulit ditangani.
DSM-IV-TR simtom skizofrenia ke dalam dua tipe, yaitu
skizofrenia dengan simtom positif diindikasikan oleh keberadaan perilaku
terganggu, seperti halusinasi, delusi, dan emosi yang ekstrem, dan skizofrenia
dengan simtom negatif memperlihatkan tidak adanya atau hilangnya pemfungsian
normal, seperti penarikan diri dari dunia sosial atau emosi yang datar
(Buchanan dkk, 2007; Levine & Rabinowitz, 2007 dalam Feldman, 2012).
Mengatasi
Kebingungan mengenai Skizofrenia: Penyebab Biologis
Skizofrenia kemungkinan memiliki asal biologis dan
lingkungan (Sawa & Snyder, 2002 dalam Feldman, 2012). Menurut bukti yang
merujuk pada penyebab biologis, skizofrenia lebih umum dalam beberapa keluarga
dibandingkan dengan keluarga yang lain, faktor genetik sepertinya terlibat
dalam menghasilkan setidaknya kerentanan atau kesiapan untuk mengembangkan
skizofrenia. Semakin dekat hubungan genetik antara seorang penderita skizofrenia
dengan individu lain, semakin besar kemungkinan individu lain tersebut akan
mengalami gangguan ini (Brzustowicz dkk, 2000; Plomin & McGuffin, 2003;
Gottesman & Hanson, 2005 dalam Feldman, 2012).
Jika genetik saja yang dianggap
bertanggungjawab atas skizofrenia maka kesempatan dari dua orang kembar identik
untuk mengalami skizofrenia akan menjadi 100%. Pada kenyataannya, angka
tersebut bergeser hingga kurang dari 50% pada pasangan kembar identik yang
keduanya memiliki bentukan genetik yang sama. Faktor genetik saja tidak akan
menyebabkan munculnya skizofrenia (Franzek & Beckmann, 1996; Lenzenwger
& Dworkin, 1998 dalam Feldman, 2012).
Hipotesis biologis menjelaskan bahwa
skizofrenia adalah otak dari penderita gangguan ini dapat mengalami
ketidakseimbangan biokimia atau abnormalitas struktural.. Beberapa penjelasan
biologis menyebutkan bahwa terdapat abnormalitas struktur pada otak penderita
skizofrenia yang mungkin merupakan hasil dari infeksi virus pada saat
perkembangan prenatal. Bukti lebih jauh akan pentingnya faktor biologis
terlihat ketika penderita skizofrenia mendengar suara-suara dari halusinasi,
bagian dari otak yang bertanggungjawab atas pendengaran dan pemrosesan bahasa
menjadi aktif. Ketika mereka mengalami halusinasi visual, bagian otak yang
terlibat dalam pergerakan dan warna akan aktif. Pada saat bersamaan, bagian
lobus frontal penderita skizofrenia menunjukkan tingkat aktivitas yang sangat
rendah.
Sudut
Pandang Lingkungan terhadap Skizofrenia
Faktor biologis memberikan bagian yang
penting bagi informasi mengenai skizofrenia, namun kita masih harus
mempertimbangkan pengalaman masa lalu dan masa kini dalam lingkungan
penderitaan skizofrenia. Pendekatan psikoanalisis menyebutkan bahwa skizofrenia
adalah bentuk agresi terhadap pengalaman dan tahap kehidupan sebelumnya. Freud
percaya bahwa penderita skizofrenia kurang memiliki ego yang cukup kuat untuk
mengatasi impuls yang tidak dapat mereka terima.
Beberapa peneliti menyebutkan bahwa
skizofrenia merupakan hasil dari tingkat ekspresi emosi yang sangat tinggi.
Ekspresi emosi adalah gaya interaksi yang dicirikan dengan kritikan,
permusuhan, dan campur tangan emosional anggota keluarga. Peneliti lain
menyebutkan bahwa pola komunikasi yang salah merupakan pusat dari skizofrenia.
Psikolog yang mengambil sudut pandang
kognitif terhadap skizofrenia menyebutkan bahwa masalah dalam pola berpikir
yang dialami oleh penderita gangguan ini pada penyebab kognitif. Beberapa
menyebutkan bahwa skizofrenia merupakan hasil dari perhatian lebih terhadap
stimulus dalam lingkungan. Alih-alih mampu menyaring stimulus yang tidak
penting dan tidak memiliki konsekuensi serta berfokus pada stimulus yang
penting dalam lingkungan, penderita skizofrenia dapat terlalu represif pada
hampir semua hal dalam lingkungan mereka. Sebagai konsekuensinya, kemampuan
pemrosesan informasi mereka menjadi terlalu penuh dan akhirnya rusak. Ahli
kognitif yang lain berpendapat bahwa skizofrenia merupakan hasil dari kurang
perhatian pada stimulus, yaitu penderita skizofrenia gagal untuk fokus pada
stimulus yang penting dan lebih memperhatikan stimulus lain yang kurang penting
dalam lingkungan mereka (Cadenhead & Braff, 1955 dalam Feldman, 2012).
Penyebab
Ganda dari Skizofrenia
Pendekatan yang dominan digunakan untuk
menjelaskan munculnya skizofrenia saat ini adalah model predisposisi bagi
skizofrenia, yaitu menyatukan sejumlah faktor biologis dan lingkungan. Model
ini menyebutkan bahwa individu dapat mewarisi predisposisi atau sensitivitas
bawaan terhadap skizofrenia yang membuat mereka rentan terhadap faktor-faktor
yang menimbulkan stres dari lingkungan, seperti penolakan sosial atau pola
komunikasi keluarga yang tidak baik. Jika mereka cukup kuat dan dipasangkan
dengan predisposisi genetik, maka hasilnya akan menjadi munculnya skizofrenia.
Predisposisi genetik yang kuat dapat mendorong terjadinya skizofrenia, bahkan
ketika stresor dari lingkungan relatif lemah (Feldaman, 2012).
Gangguan
Kepribadian
Gangguan kepribadian adalah gangguan
yang dicirikan dengan seperangkat pola perilaku yang tidak fleksibel dan
maladaptif yang membuat seseorang tidak dapat berfungsi secara tepat di
masyarakat. Mereka yang mengalami gangguan ini sering kali tidak menyadari
adanya tekanan personal yang diasosiasikan dengan kegagalan untuk menyesuaikan
diri secara psikologis. Kenyataannya mereka dapat menjalani kehidupan yang
terlihat normal (Feldman, 2012).
Berikut beberapa tipe gangguan
kepribadian (Feldman, 2012), yaitu:
1.
Gangguan
kepribadian antisosial, yaitu gangguan ketika individu memperlihatkan
pengabaian terhadap aturan moral dan etis dalam masyarakat atau hak dari orang
lain.
2.
Gangguan
kepribadian ambang, yaitu gangguan ketika individu memiliki kesulitan untuk
mengembangkan perasaan yang aman mengenai siapa diri mereka sebenarnya.
3.
Gangguan
kepribadian narsistik, yaitu gangguan kepribadian yang dicirikan dengan
perasaan berlebihan bahwa dirinya penting.
Gangguan
Masa Kanak-kanak
Gangguan masa kanak-kanak yang lebih
umum adalah gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas. Gangguan ini
ditandai dengan tidak adanya perhatian, perilaku impulsif, rendahnya toleransi
terhadap frustrasi, dan aktivitas umum yang sering kali tidak sesuai. Anak yang
didiagnosa mengalami gangguan ini sering dipandang melelahkan oleh para guru
dan orangtua, bahkan teman mereka merasa kesulitan menghadapi mereka. Penyebab
gangguan ini masih belum diketahui meskipun mayoritas ahli merasa bahwa hal
tersebut disebabkan oleh disfungsi pada sistem syaraf. Misalnya, salah satu
teori menyebutkan bahwa tingkat ketergugahan yang terlalu rendah di sistem
saraf pusat menyebabkan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas
(Feldman, 2012).
Autisme yaitu ketidakmampuan
perkembangan yang parah yang menurunkan kemampuan anak untuk berkomunikasi
secara verbal maupun nonverbal dan berhubungan dengan orang lain. Autisme
merupakan gangguan masa kanak-kanak yang biasanya muncul pada tahun pertama dan
umumnya berlanjut sepanjang kehidupan (Feldman, 2012).
Daftar Pustaka
Feldman, Robert S. 2012. Pengantar Psikologi
(Understanding Psychologi) (Edisi ke 10 buku ke 2). Dialihbahasakan oleh Petty
Gina Gayatri dan Putri Nurdina Sofyan. Jakarta: Salemba Humaika.
Mummys Gold Casino - Jammy Hub
BalasHapusMummys Gold Casino: Free Slot Machines. Play online slots from the comfort 제주 출장샵 of your home 남양주 출장안마 in the 청주 출장샵 UK. Mummys 전라북도 출장안마 Gold 남양주 출장안마 Casino is a casino with a